Belajar Dalam Setiap Tarikan Napas

Belajar, terdengar seperti sebuah kewajiban yang harus kita lakukan sebagai
seseorang yang berstatus sebagai pelajar. Terkadang kita hanya melakukan apa
yang diperintahkan tanpa mengetahui apa yang kita lakukan sebenarnya. Melakukan
satu hal yang kita kenal sebagai kegiatan belajar tanpa berpikir dan menyadari
apa yang kita cari. Menurut wikipedia, belajar
adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi
perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar
menuntut terjadinya suatu perubahan yang bermanfaat bagi semua pihak. Sebuah
paradigma tentang belajar sebagai sebuah kewajiban harus dapat diubah menjadi
belajar sebagai sebuah kebutuhan. Perlu kita sadari bahwa dalam setiap detik
waktu yang kita lalui, dalam setiap tarikan nafas yang kita hirup, dan dalam setiap
langkah kaki yang kita jejakan, kita belajar.

 

Belajar, dapat dipakai sebagai kata kerja untuk berbagai kata
yang berkedudukan sebagai pelengkap (bukan objek), karena kalimat yang
mengandung kata belajar hanya dapat berupa kalimat aktif yang tidak dapat
dijadikan kalimat pasif. Di sinilah kita belajar bahwa belajar memang hanya
dapat dilakukan secara aktif oleh subjek atau pelaku. Belajar bersifat generik,
dapat diaplikasikan untuk berbagai hal yang memang dapat dipelajari. Belajar
dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, dari siapa saja,
oleh siapa saja dan saja-saja yang lainnya yang tidak dapat dituliskan semuanya
di sini.

 

Belajar, mulai dari bayi sampai orang tua, semua tetap belajar
tanpa mengenal batas waktu dan usia. Prinsip triple L (Live Long Learning)
atau MARSIKKOLA SAPPE MATUA atau
BELAJAR SEPANJANG HIDUP sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan
kita. Menurut Peter Senge dalam bukunya The
Fifth Discipline
mengatakan bahwa belajar sama sekali tidak lagi sama
dengan memperoleh pengetahuan, akan tetapi perilaku seseorang akan berubah
apabila seseorang belajar. Melalui belajar kita membangun kembali diri sendiri.
Melalui belajar kita menjadi mampu melakukan sesuatu yang belum pernah kita
lakukan sebelumnya. Melalui belajar kita merasakan kembali dunia dan adanya
hubungan diri sendiri dengan dunia. Melalui belajar kita memperluas kemampuan
kita untuk mencipta, dan menjadi bagian dari proses pembangkitan kehidupan.


Belajar, bukan hanya manusia yang bisa dan harus belajar, sebuah organisasi pun
bisa dan harus belajar, meskipun
terdengar agak aneh, namun itulah satu hal yang dikenal dengan istilah Learning Organization, atau dalam bahasa
Indonesia disebut organisasi pembelajaran.
Organisasi yang mampu belajar adalah organisasi yang mengutamakan
pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu proses sekaligus suatu nilai. Idealnya,
setiap anggota harus memiliki komitmen untuk terus memperbaiki diri melalui
belajar. Dengan mempelajari hakikat pembelajaran, organisasi secara keseluruhan
dituntut untuk selalu memperbaiki semua aspek dirinya. Organisasi yang mampu
belajar menjadikan organisasi sebagai sistem yang hidup. Setiap bagian
dihubungkan pada setiap bagian lainnya. Sebagai sistem yang hidup, terdapat
tuntutan kuat untuk menjaga keseimbangan.
Sebuah organisasi pembelajaran adalah sebuah pelaksanaan bersama yang berakar didalam
tindakan. Terbangun diantara orang, pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan mereka
untuk memperbaharuinya. Dicirikan dengan perbaikan secara terus-menerus melalui
ide-ide, pengetahuan dan wawasan baru, dimana digunakan untuk mengantisipasi
secara langsung, memperbaharui dan menemukan cara yang baru dan lebih baik
untuk memenuhi misinya. Sebuah organisasi pembelajaran tidak dapat bertahan
tanpa sebuah komitmen untuk pembelajaran yang abadi bagi orang-orangnya,
sehingga bahwa kaitan antara pelatihan dan pengembangan dan pembelajaran tetap
berkelanjutan.

 

Belajar, harus dilakukan oleh seluruh bagian dari organisasi yang ingin menjadi
sebuah organisasi pembelajaran. Semua bagian, mulai dari ketua sampai dengan
anggota bersama-sama belajar menghadapi perubahan dan belajar bersama
perubahan. Peran ketua sebagai bagian dari organisasi pembelajaran tetap sama
dengan peran bagian lain dari organisasi pembelajaran, yaitu tetap belajar,
senantiasa belajar, dan menjadikan anggotanya tetap belajar, senantiasa
belajar, dan berkomitmen. Belajar dengan melakukan atau dikenal dengan istilah learning by doing adalah salah satu
metode belajar yang efektif, oleh karena itu ketua yang ingin belajar dan
menjadikan anggotanya belajar harus dapat berkomitmen dan memberikan contoh
yang baik bagi anggotanya. Ketua harus mampu membangun lingkungan yang nyaman
dan kondusif bagi seluruh anggotanya untuk belajar. Seorang ketua harus senantiasa berbagi pembelajaran kepada seluruh
anggotanya dan memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk terus belajar.

 

Belajar, sebuah bagian dalam hidupmu, dan teruslah belajar di dalam setiap
tarikan napasmu.

 

Ginar Santika Niwanputri

Manusia yang sedang belajar untuk
hidup




Referensi :

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar

[2] http://www.access-indo.or.id/documents/ACCESS_and_CL_paper-ind.pdf

[3] http://agribisnis.deptan.go.id/agromedia/artikel%2012.htm

 

   


3 Responses to “Belajar Dalam Setiap Tarikan Napas”

  1. Hardani Says:

    weeiiiss.. mo jadi ketua BRT niy.. smoga sukses lah truskan perjuangan gw yang sudah lebih dulu dilanjutkan oleh lafra.. huehehe.. gudluck

  2. Roni Says:

    sip.sip.. ^_^ semoga apa yang ditulis di sini benar2 untuk kegiatan belajar seutuhnya

    ada baiknya tuk belajar lebih dalam ttg “fifth discipline”-nya Peter Senge tuh.. selain learning-by-doing perlu juga melakukan sharing knowledge lho.. pertanyaan gw sederhana aja.. bagaimana lo dapat memulainya???

  3. 'iNaY' Says:

    @dani
    hehe..tnang bos.. akan saya lanjutkan perjuangan kalian..
    smoga HMIF bs jadi lebih baik lagi.. terus dan terus..
    thanx ya, bapak ketua DRT..
    (^-^)

    @roni
    semua akan dimulai dari diri sendiri.. dan akan saya coba membenahi diri sebelum memberikan pelajaran bagi orang lain..

    doakan saja yah..

    thx for the comment

Leave a Reply